Jam menunjukkan pukul 22.00. Lantai 12 gedung perkantoran itu hanya diterangi lampu meja dan bias layar laptop. Aku—Maya—sedang merapikan laporan Q3 yang harus dikirim subuh nanti. Suara AC menjadi satu-satunya teman, hingga...
Malam lembur yang seharusnya sepi berubah menjadi ajang permainan psikologis ketika Maya—seorang staf pemasaran yang ambisius—tertinggal sendirian di kantor bersama Arka, bosnya yang terkena genit dan karismatik. Terinspirasi dari gaya menggoda ala Ena Koume (tokoh fiksi dalam cerita dewasa Jepang yang lihai memainkan tatapan dan sentuhan), Arka membuat Maya terperangkap dalam pusaran rayuan yang sulit ditolak. Cuplikan Narasi (Write-Up):
Jantungku berdegu kencang. Aroma parfumnya yang woody dan hangat tiba-tiba menyergap. Inilah yang disebut “genit ala Ena Koume”—bukan vulgar, tapi menjebak lewat detail kecil: tatapan yang terlalu lama, napas yang sengaja dihembuskan ke telinga, jarak yang terus menyusut tanpa pernah menyentuh.
Klik.
“Saya hanya lembur, Pak,” jawabku kaku, mataku tetap pada layar.
Pintu ruang eksekutif terbuka. Keluar Arka, direktur muda dengan kemeja lengan digulung sampai siku, dasi sudah longgar, dan senyum yang tidak pernah benar-benar ramah—selalu ada ujung genit di sudut bibirnya.
Alis Arka naik. Dia tersenyum lebar, lalu menekan tombol remote di sakunya. Lampu ruangan mati satu per satu, hanya menyisakan backlight dari jendela kaca yang merefleksikan siluet kami berdua. Jam menunjukkan pukul 22
“Masih di sini, Maya?” suaranya parau, sengaja diatur serendah mungkin. “Atau... kau sengaja menungguku?”
Dia tertawa kecil. Lalu—tanpa izin—jarinya menyentuh ujung rambutku yang jatuh ke pipi. “Kamu tahu? Lembur sendirian dengan bos itu berbahaya.”
Aku tersentak. Bukan karena kaget, tapi karena cara dia melangkah mendekat—lambat, percaya diri, persis seperti Ena Koume dalam film dewasa yang tanpa sengaja pernah kulihat di HP teman. Gerakan yang tahu persis efeknya. Suara AC menjadi satu-satunya teman, hingga
Romance Dewasa / Office Drama / Dark Temptation
“Tapi aku suka bahaya,” kataku akhirnya, menoleh. Menantang.